Asas Aqidah Islam

9:39 AM Add Comment
Sumber utama aqidah islam adalah sebagai berikut:

• Al Quran
   >>
Kalam Allah (wahyu Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad 
       SAW.
• Hadis  Nabawi
   >>
Setiap Perkataan / Ucapan , Perbuatan ,Pengakuan & Sifat Rasulullah
       SAW
.

ASPEK  PEMBAHASAN  AQIDAH  ISLAM
1. Ar- Rububiyyat
   >>
Mentauhidkan Allah sebagai Pencipta,Pemilik dan Penguasa
2. Al- Uluhiyyat
   >>
Mentauhidkan Allah yang bersifat dengan sifat kesempurnaan.Hanya
       Allah wajib disembah,ditaati peraturannya,tempat berdoa dan berharap.
3. An- Nubuwwat
   >>
Kenabian Rasulullah s.a.w. yang membawa ajaran Allah utk disampaikan
       kepada  umat  manusia.
4. As- Samiyyat
   >>
Perkara-perkara ghaib yang tidak dapat dicapai oleh pancaindera dan tidak
       dapat dijangkau oleh akal manusia , namun diketahui melalui al-Quran &
       hadis rasulullah seperti kiamat, dosa, pahala, melalui al-Quran & hadis
       rasulullah seperti kiamat, dosa,pahala,syurga dan neraka.
  
PERKARA /AMALAN YANG MERUSAKKAN AQIDAH
Aqidah seseorang bisa rusak melalui Perkataan, Perbuatan dan Hati

Perkataan :
- Menghina Islam seperti mencela Allah,Al Quran dan Hadis.
- Mengubah hukum dengan perkataan seperti menolak kewajiban solat fardu
  dan menolak kewajiban menutup aurat.
- Bersumpah dengan selain nama Allah seperti demi bulan matahari dll.
- Menyanyi lagu-lagu yang liriknya bertentangan dengan akidah.
- Mengubah ayat al Quran atau hadis.

Perbuatan :
- Menyembah selain daripada Allah seperti berhala , pokok,syaitan dll
- Memakai lambing mana-mana agama seperti salib
- Menghina Al Quran seperti mengoyak,memijak,mencampak
- Menyertai upacara agama lain seperti upacara penyembahan berhala dan
  penyucian dosa (babtis) di gereja
- Sujud selain daripada Allah seperti sujud kepada manusia , batu dan lain-lain

Hati :
- Meyakini bahawa alam ini terjadi dengan sendiri.
- Percaya bahawa pencipta alam ini sama seperti makhluk lain.
- Ragu-ragu dgn rukun Iman, rukun Islam dan hukum Islam.
- Berniat keluar daripada Islam.

PERKARA YANG  MENDORONG  KESALAHAN  PERILAKU AQIDAH
- Kurang mendalami ilmu agama Islam.
-Tidak suka mendampingi ulamak & pendidik.
-Terpengaruh dengan budaya dan hiburan asing yang merusakkan akhlak.
-Berkawan dengan orang yang rusak akhlak.

PERKARA / AMALAN UNTUK  MEMANTAPKAN AQIDAH

Lisan
1. Membaca dan memahami al Quran dan hadis nabi
2. Berzikir,bertahlil,bertasbih dan bersalawat
3. Bercakap benar
4. Nasihat menasihati kearah kebenaran
5. Berdoa

Perbuatan
1. Menunaikan Ibadah semua fardu atau sunat
2. Menolong golongan yang memerlukan bantuan seperti anak yatim,fakir
    miskin
3. Menuntut ilmu yang berfaedah
4. Beradab sopan dalam pergaulan
5. Melakukan kerja yang baik seperti berniaga, bertani

Hati
1. Sentiasa mengingati Allah s.w.t.
2. Yakin dengan pertolongan Allah
3. Ikhlas melakukan ibadah dan amal kebajikan
4. Berpraangka baik terhadap Allah
5. Bercita-cita tinggi dan bertawakal kepada Allah



Uqdatul Kubro

12:50 PM 1 Comment
Bismillahir Rohmanir Rohiim,
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
(QS. Al-An'am (6) : 162)
Uqdatul Kubro secara bahasa artinya adalah simpul besar. Banyak juga diartikan sebagai simpul kehidupan yang sangat besar.
Kenapa dikatakan sebagai simpul? Karena pada hakekatnya uqdatul qubro adalah 3 pertanyaan mendasar tentang kehidupan yang pasti dialami dan dijawab oleh setiap manusia, baik secara sadar maupun  tidak. Dan  munculnya filsafat juga pada hakekatnya adalah untuk mengurai simpul kehidupan ini.
Bila pertanyaan ini berhasil dijawab, maka seseorang akan memiliki landasan kehidupan sekaligus tuntutan dan tujuan hidupnya atau dengan kata lain menjadi  ideologi pribadinya.
Bagaimana bila tidak berhasil di jawab? maka orang tersebut akan terus berada dalam kebimbangan dalam hidupnya.
Jadi, apakah 3 pertanyaan itu?
1. Dari manakah manusia dan kehidupan ini?
2. Untuk apa manusia dan kehidupan ini diciptakan?
3. Akan kemanakah manusia dan kehidupan ini?

Pertanyaan-pertanyaan  ini sangat sederhana, tapi  impactnya sangat besar terhadap kehidupan kita.
Manusia dalam  usahanya  menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas telah menghasilkan berbagai  macam pemikiran yang menjadi  pegangan  hidupnya yang dalam Islam disebut sebagai Aqidah. Adapun aqidah yang nantinya di legitimate atau  disahkan  menjadi  suatu pegangan dalam  sebuah negara disebut dengan Ideologi.
Dari semua aqidah tersebut, saya menyimpulkan hanya ada 2 macam aqidah/pemikiran.
  1. MaterialismeMaterialisme memandang  bahwa kehidupan ini ada dengan sendirinya, makhluk hidup berasal dari tanah/materi dan akan kembali menjadi tanah/materi, oleh karenanya kita hidup untuk mencari kebahagiaan materi selama kita mampu. Materialisme tidak meyakini adanya hal gaib seperti tuhan, ruh, akhirat, pahala dan dosa, dan lainnya. Mereka percaya segalanya materi belaka. Mereka tidak mengakui eksistensi agama.Materialisme sendiri akan melahirkan komunisme sebagai Ideologinya.
  2. Agamis (Semua agama, tidak hanya Islam)
    Agamis memandang bahwa dibalik kehidupan ini ada sang pencipta, yang mengadakan seluruh alam, termasuk dirinya, memberi tugas kehidupan  pada manusia, dan kelak ada  kehidupan lain  setelah  dunia ini, yang akan membalas semua kehidupan dunia ini.Semua agama kecuali Islam akan melahirkan sistem Teokrasi sebagai Ideologinya.
Dua jawaban ini bukan berdasar pada apa yang benar dan apa yang salah, tidak juga berdasar pada filsafat mengenai suatu ajaran tertentu, tetapi kesimpulan pribadi semata melihat begitu banyak ajaran-ajaran di dunia ini yang intinya adalah menjawab 3 pertanyaan dasar  tadi.Berdasarkan  itu pula, maka saya berani berkata, bahwa ajaran lainnya adalah kombinasi dari 2 jawaban tersebut. Sebagai contoh :
  1. Sekulerisme, yang  notabene adalah kekecewaan para politisi dan ilmuwan terhadap ajaran sebagian  besar  agama  yang tidak  sanggup  menjawab  masalah-masalah  dalam  kehidupan ini, sehingga mereka  memisahkan  antara urusan agama dan urusan kehidupan.
  2. Liberalisme, yang merupakan bentuk lain (bentuk lebih canggih) dari Sekulerisme yang membebaskan individu dari keterikatan  negara dalam  hal  perekonomian. Jadi  jangan  kaget kalau  dalam  Liberalisme, semua  hal  di  privatisasi dan dilegalkan  atas  nama  kebebasan.
  3. Demokrasi, yang  merupakan bentuk sekulerisme yang berasal dari agama / norma adat. Artinya, peraturan-peraturan yang dibentuk, pada dasarnya adalah hukum-hukum agama / norma adat yang kemudian terkena imbas sekulerisme dan hukum-hukum agama / norma adat tersebut bergeser  menjadi norma-norma umum yang berlaku di masyarakat. Kebenaran dalam demokrasi  adalah  ketika  sebagian  besar masyarakat  menyatakan  setuju,  meskipun sudah tidak sesuai dengan hukum agama / norma adat.
Pemecahan Uqdatul  Kubro
Pemecahan yang benar tentang masalah ini tidak akan terbentuk kecuali dengan pemikiran yang jernih dan menyeluruh tentang :
(1) alam semesta (al kaun),
(2) manusia (al insan) dan
(3) kehidupan (Al hayaah) serta hubungan ketiganya dengan kehidupan sebelum dan sesudah kehidupan ini.

1.Proses Keimanan terhadap Al-Kholiq (Sang Pencipta)

Sudah menjadi fitrah manusia untuk mengakui adanya Tuhan Sang Pencipta (Al-Kholiq). Dan meskipun kaum sekuler / komunis tidak mengakui adanya tuhan, mereka begitu mengagung-agungkan tokoh-tokoh komunis sampai lebih menyerupai penyembahan terhadap tuhan.Kita sempat terkecoh dan terjebak dengan pemikiran-pemikiran kaum komunis tentang keberadaan Tuhan, bagaimana Tuhan tidak bisa dilihat dan tidak berwujud maka Tuhan itu tidak ada?
Untuk membuktikan keberadaan Tuhan, sebetulnya cukup mudah, semudah membalikkan telapak tangan, kita hanya perlu membalik pertanyaannya, bukan buktikan bahwa Tuhan itu ada, tetapi buktikan bahwa Tuhan itu tidak ada!
Manusia, hewan dan tumbuhan berasal dari ketiadaan, kemudian ada, tumbuh dan berkembang untuk kemudian menjadi tidak ada lagi. Kita semua tahu, bahwa segalanya berasal dari ketiadaan, menjadi ada dan kembali menjadi tidak ada. Tidak hanya manusia, hewan, maupun tumbuhan, tetapi segala sesuatu yang kita jumpai dalam hidup ini mengalami proses yang sama yang pada akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa segalanya bersifat terbatas, dari 'ketiadaannya' hingga batas waktu yang tidak bisa dilampauinya lagi.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.
(QS. Ali-Imron (3) : 190)

Dan sekumpulan benda-benda yang bersifat terbatas adalah terbatas juga, termasuk alam semesta ini. Manusia bersandar pada banyak hal, termasuk udara, air, tumbuhan, dan hewan. Demikian pula Tumbuhan dan hewan selalu bersandar pada yang lain karena keterbatasannya, maka bersandar kemanakah alam semesta dan seisinya ini?
Disini jelas bahwa diperlukan 'sesuatu yang lain', yang lebih hebat, yang menjadi tempat bersandar dan tidak menyandarkan dirinya pada yang lain. Inilah yang disebut sebagai Al-Khaliq atau Sang Pencipta.
Dalam menentukan sifat Al-Khaliq ini ada tiga kemungkinan:
Pertama, Diciptakan oleh yang lain. Please deh . . . Sang Pencipta diciptakan oleh yang lain? Lalu yang menciptakan sang pencipta nya sang pencipta siapa? Dan terus pertanyaannya berlajut seperti itu. Ini balik lagi ke pembahasan awal.
Kedua, Menciptakan dirinya sendiri. Stupid statement actually. Sangat gak masuk akal atawa irrasional.
Ketiga, Ia bersifat azali, wajibul wujud dan mutlak keberadaannya, dialah Allah SWT.

Iman kepada sang Khaliq ini merupakan sesuatu hal yang fitri dalam diri setiap manusia, yang datang dari perasaan hati yang ikhlas, akan tetapi perasaan hati ini sering menambah-nambah atas apa yang diimani dengan sesuatu yang berwujud sehingga dapat menjerumuskan kearah kesesatan / kekufuran. Oleh karenanya Islam tidak membiarkan perasaan hati ini sebagai satu-satunya jalan menuju iman.
Islam mengajarkan untuk tidak mempertanyakan atau mencoba mengindera tentang dzat Allah (sifat-sifat) secara langsung, tetapi memeritahkan kita untuk memahami dzat Allah melalui keberadaan ciptaan-ciptaanNya (QS. Ali-Imron (3): 190). Ini dikarenakan keterbatasan kemampuan indera manusia yang tidak akan sanggup menginder dzat Allah kecuali melalui ciptaanNya.

2. Proses Keimanan terhadap Rasul

Setelah kita mengimani sang Khaliq, maka kita selanjutnya melakukan pen-taqdis-an (pengagungan atau pensucian) yang selanjutnya kita kenal sebagai ibadah yang merupakan tali penghubung antara manusia dan PenciptaNya.
Apabila ibadah ini dibiarkan dengan sendirinya tanpa ada aturan, maka yang ada adalah kekacauan dan penyembahan dari selain dari pencipta yang sebenarnya.
Jadi harus ada aturan tertentu yang mengatur ini dengan baik, hanya saja aturan ini harus datang dari Al-Khaliq ke tangan manusia, maka tidak-boleh tidak, harus ada para Rasul yang menyampaikan agama ini.
Kenapa Allah tidak datang atau turun langsung memberikan aturan-aturan tersebut? Karena keterbatasan indera manusia, niscaya, manusia tidak akan sanggup untuk berhadapan langsung dengan Sang Khaliq.
Oleh karenanya, dalam Islam, tidak pernah ada istilah Tuhan turun ke bumi ataupun manusia / rasul menjadi Tuhan, karena Rasul itu jelas hanya seorang manusia yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyampaikan agama Allah.

3. Proses Keimanan terhadap Al-Qur'an Kalamullah

Hal paling mudah untuk membuktikan bahwa Al-Qur'an itu datang dari Allah SWT adalah bahwa telah terbukti Allah menjaga Al-Qur'an dari ayat terakhir turun hingga detik ini, isi Al-Qur'an tidak pernah berubah, segala daya dan usaha untuk merubahnya telah gagal, karena Allah SWT sendirilah yang menjaganya.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.
(QS. Al-Hijr (15) : 9)

Oleh karenanya, terbukti sudah bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah yang terlindung dari campur tangan manusia.Kita bisa lihat begitu banyak kitab-kitab suci diubah tangan manusia demi kepentingan manusia sehingga diragukan apakah ini perkataan Tuhannya ataukah hanya perkataan sang ahli kitab saja.
Konsekuensi  Iman kepada Allah, Rasulnya dan Al-Qur'an Setelah kita beriman kepada Allah, Rasulnya, dan Al-Qur'an, maka kita telah wajib beriman terhadap apa saja yang dikabarkan oleh-Nya, baik yang dapat dicerna oleh akal maupun yang tidak.
Dari sini kita wajib beriman kepada hari kebangkitan dan pengumpulan (ba'ats), surga dan neraka, hisab dan siksa, malaikat, Jin dan Syaitan, serta apa yang diterangkan oleh Al-Qur'an dan Hadist qath'i.
Oleh karena itu kita wajib beriman kepada kehidupan sebelum dunia, yaitu adanya Allah SWT dan proses penciptaan oleh-Nya; serta beriman kepada kehidupan setelah dunia yaitu hari akhirat. Perkataan-perkataan Allah SWT merupakan tali penghubung (shilah) antara kehidupan sebelum dunia dan kehidupan dunia, yaitu hubungan penciptaan (shilatul haq); dan sekaligus menjadi penghubung antara kehidupan dunia dan kehidupan setelah dunia (shilatul muhasabah) dan pastilah manusia terikat oleh tali penghubung ini.

Oleh karenanya, manusia wajib berjalan dalam kehidupan ini sesuai dengan peraturan Allah, dan akan dihisab pada hari kiamat atas segala perbuatannya di dunia.
Disini kita telah berhasil menjawab uqdatul qubro dengan benar, bahwa sebelum adanya kehidupan ada Allah SWT; Kita berjalan diatas bumi ini karena Allah SWT dan sudah sepantasnya hanya untuk Allah SWT dan dengan peraturan Allah SWT; Untuk kemudian dihisab pada hari kiamat atas segala perbuatannya di dunia.

Selanjutnya
Setelah kita telah berhasil memecahkan uqdatul qubro, maka sudah saatnya kita beriman kepada semua yang diperintahkan Allah SWT, termasuk beriman kepada Syari'at Islam (sebagaimana terhadap aqidah Islam) sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur'an.

Seorang yang ingkar terhadap hukum-hukum syara' secara keseluruhan atau sebagian, dapat menyebabkan ia menjadi kufur, baik hukum-hukum yang berkaitan dengan ibadah, muamalah, uqubat (sanksi), ataupun math 'umat (yang berkaitan dengan makanan).

Alhamdulillahirrobil 'Allamiin.

Contoh Mukadimah Ceramah

8:05 PM Add Comment
contoh mukaddimah ceramah/kultum,  yang kami pilih karena singkat dan praktis, agar lebih mudah dihafalkan, dipahami dan dipraktekkan. Semoga bermanfaat, dan selamat mempersiapkan diri mengisi Ramadhan yang mulia.
Contoh 1 : 
  
اَلْحَمْدُ ِللهِ الْمَلِكِ الْحَقِّ الْمُبِيْنِ، الَّذِي حَبَانَا بِالْإِيْمَانِ واليقينِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد،ٍ خَاتَمِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِين، وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيِن، وَأَصْحَابِهِ الأَخْيَارِ أَجْمَعِين، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ

Segala puji bagi Allah, al-Malik Al-Haqq, Al-Mubin, yang memberikan kita iman dan keyakinan. Ya Allah, limpahkan shalawat pada pemimpin kami Muhammad, penutup para nabi dan rasul, dan begitu pula pada keluarganya yang baik, kepada para sahabat piluhan, dan yang mengikuti mereka dengan penuh ihsan hingga hari kiamat.

Contoh 2 :

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan, dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal  kita. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada Muhammad dan keluarganya, dan sahabat dan siapa saja yang mendapat petunjuk hingga hari kiamat.

Contoh 3 : 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛

Segala puji bagi Allah, yang Maha Mengetahui dan  Maha Melihat hamba-hambanya, Maha suci Allah, Dia-lah yang menciptakan bintang-bintang di langit, dan dijadikan padanya penerang dan Bulan yang bercahaya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya, yang diutus dengan kebenaran, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, mengajak pada kebenaran dengan izin-Nya, dan cahaya penerang bagi umatnya. Ya Allah, curahkan sholawat dan salam bagi nya dan keluarganya, yaitu doa dan keselamatan yang berlimpah.

Semoga bermanfaat..

Kewajiban Berdakwah

1:15 PM Add Comment
Berdakwah adalah tugas mulia dalam pandangan Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga dengan dakwah tersebut Allah menyematkan predikat khoiru ummah (sebaik-baik umat) kepada umat Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ … ﴿١١٠﴾
“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS: Ali Imron 110)
Silahkan Download versi PPTP nya Di sini





Akhirat Orientasi Hidup kita

10:58 AM Add Comment

Jika hidup sekedar hidup Babi di hutan juga hidup Kalau bekerja sekadar bekerja
Kera juga bekerja (Prof.Dr.Buya Hamka, Alm)

Silahkan Download versi pptp nya klik di sini

Empat Nilai/Qimah

9:59 AM Add Comment

Kita harus mengetahui akan tujuan perbuatan atau biasa yang disebut dengan qimatul ‘amal (nilai perbuatan). Syaikh Taqiyuddin memetakan macam-macam nilai perbuatan tersebut ada empat :
1.      Qimatul madiyah (materi), nilai yang berorientasi pada materi, misalkan ketika berjualan nilai perbuatan yang semestikanya dilakukan adalah dengan menegakkan qimatul madiyah, pada saat kuliah juga ia, keluar kelas semestinya mendapatkan materi dari pembelajaran yang telah diberikan, pada gaji, pada jual-beli dan contoh banyak lainnya yang berorientasi kepada keuntungan.
2.      Qimatul Khuluqiyah (Akhlak), nilai moral yang dapat diraih dengan melakukan perbuatan jujur, amanah, rendah hati, tidak sombong, peduli dan lain sebagainya. Dalam perkara ini maka tidak boleh apabila jujur akan tetapi dorongan untuk melakukan kejujuran tersebut untuk mendapatkan uang (materi). Maka semestinya diluruskan adalah bahwa tujuan dari kejujuran tersebut adalah untuk mendapatkan ridho Allah karena Allah memerintahkan untuk jujur, sehingga nilai yang harus ditegakkan cukuplah dengan qimatul khuluqiyah, bukan yang lain.
3.      Qimatul insaniyah, yakni nilai yang ditegakkan dalam rangka tolong menolong humanis, saling bertenggang rasa terhadap teman, tetangga dan lainnya. Akan sangat tidak  tepat apabila qimah yang hendak ditegakkan insaniyah pada kasus A menolong B karena kecelakaan, namun si A meminta bayaran. Ini tidak dibolehkan.
4.      Qimatul ruhiyah, yaitu ibadah hanya kepada Allah, contohnya puasa, sholat, zakat dan lain-lain. Mungkin pernah mendengar kisah anak-anak apabila ia bisa berpuasa ramadhan full maka ia akan diberikan hadiah,aktivitas ini apabila tetap dibiarkan maksudnya bahwa semestinya yang harus ditegakkan adalah qimah ruhiyah menjadi madiyah hal ini tidak diperbolehkan.
Dari pembahasan ini maka perlu kita ketahui bahwa nilai perbuatan ini tidak bisa sekali dayung 1, 2, bahkan 3 pulau terlampaui, akan tetapi dalam setiap perbuatan semestinya cukup menegakkan satu qimah(nilai). Tidak bisa bersama-samaan, misalkan aktivitasnya berjualan, dalam berjualan ini tidak dibolehkan apabila qimah yang hendak didapatkan adalah qimah insaniyah dan materi, ini tidak  boleh. Yang diperbolehkan adalah apabila aktivitas ini berdiri sendiri-sendiri. Seperti yang disebutkan dalam kitab Mafahim HT bahwa nilai-nilai semacam ini tidak memiliki kelebihan atau kesamaan berdasarkan nilzai (zat)nya sendiri.
Sebab didalamnya tidak terdapat ciri yang dapat dijadikan patokan untuk mengutamakan atau menyamakan satu dengan yang lainnya,melainkan merupakan hasil yang menjadi tujuan manusia di saat melakukan suatu perbuatan. Karena itu. Kita tidak bisa meletakkannya secara bersama-sama dalam satu ukuran. Sebab, nilai-nilai itu berbeda-beda, terkadang malah bertolak belakang.[1] Jadi mengedepankan satu nilai atas nilai yang lain, juga melebihi atau menyamakannya adalah hak preogratif syara’, karena apabila masalah itu diserahkan sepenuhnya kepada manusia, niscaya terjadi perselisihan antara satu individu dengan individu yang lain dalam menaksir persamaan atau pelebihan ini, dengan demikian setiap individu memiliki standar tertentu dengan dirinya.[2]
Dengan demikian topik mengenai berbagai nilai perbuatan yang diusahakan setiap orang untuk mencapainya pada saat melakukan berbagai macam perbuatan.[3]


[1] An-Nabhani Taqiyuddin, “Mafahim HT”,  HTI Press, Jakarta: 2008, hlm 49
[2] Abdullah Muhammad Husain, “Mafahim Islamiyah”, Al Izzah, Jatim; 2003, hlm 69
[3] An-Nabhani Taqiyuddin, “Mafahim HT”,  HTI Press, Jakarta: 2008, hlm 48

atau mau download versi power poinnya silahkan klik disini.


Bukan Muhrim , Artinya Apa ?

10:41 PM Add Comment
Seringkali kita mendengar dan melihat seseorang seseorang mengucapkan kata bukan muhrimnya, baik itu di layar televisi, ceramah, sinetron,dan lainnya. tapi apa sich arti sebutan bukan muhrim itu?


Pengertian Bukan Muhrim
Pertama kami ingatkan, bahwa penggunaan istilah yang benar adalah mahram bukan muhrim. Karena muhrim artinya orang yang melakukan ihram, baik untuk umrah atau haji. Sedangkan mahram, Imam an-Nawawi memberi batasan dalam sebuah definisi berikut :
" Setiap wanita yang haram untuk dinikahi selamanya, disebab sesuatu yang mubah,karena statusnya yang haram. (Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, 9:105)

Kemudian beliau memberikan keterangan untuk definisi yang beliau sampaikan:
  1. Haram untuk dinikahi selamanya : Artinya ada wanita yang haram dinikahi,namun tidak selamanya. Seperti adik istri atau bibi istri. Mereka tidak boleh dinikahi, tetapi tidak selamanya. Karena jika istri meninggal atau dicerai,suami boleh menikahi adiknya atau bibinya.
  2. Disebabkan sesuatu yang mubah : Artinya ada wanita yang haram untuk dinikahi selamanya dengan sebab yang tidak mubah. Seperti ibu wanita yang pernah disetubuhi karena dikira istrinya, atau karena pernikahan syubhat. Ibu wanita ini haram untuk dinikahi selamanya, namun bukan mahram. Karena menyetubuhi wanita yang bukan istrinya, karena ketidaktahuan bukanlah perbuatan yang mubah.
  3. Karena statusnya yang haram : Karena ada wanita yang haram untuk dinikahi selamanya, namun bukan karena statusnya yang haram tetapi sebagai hukuman. Misalnya, wanita yang melakukan mula’anah dengan suaminya. Setelah saling melaknat diri sendiri karena masalah tuduhan selingkuh, selanjutnya pasangan suami-istri ini dipisahkan selamanya.Meskipun keduanya tidak boleh nikah lagi, namun lelaki mantan suaminya bukanlah mahram bagi si wanita.
Adapun wanita yang tidak boleh dinikahi karena selamanya ada 11 orang ditambah karena faktor persusuan (18). Tujuh diantaranya, menjadi mahram karena hubungan nasab, dan empat sisanya menjadi mahram karena hubungan pernikahan.

Muhrim = Mahram (yang haram dinikahi) menurut Islam adalah: Mahram bisa dibagi menjadi 3 kelompok. Pertama, mahram karena nasab (keturunan). 
Kedua, mahram karena penyusuan. 
Ketiga, mahram karena pernikahan.
1. Mahram Karena Nasab (Keturunan):
Kelompok yang pertama (mahram karena keturunan) ini ada 7 golongan, yakni :
  1. Ibu, nenek dan seterusnya ke atas, baik jalur laki-laki maupun wanita.
  2. Anak perempuan (putri), cucu perempuan, dan seterusnya, ke bawah baik dari jalur laki-laki-laki maupun perempuan.
  3. Saudara perempuan sekandung, seayah atau seibu.
  4. Saudara perempuan bapak (bibi), saudara perempuan kakek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu. 
  5. Saudara perempuan ibu (bibi), saudara perempuan nenek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu.
  6. Putri saudara perempuan (keponakan) sekandung, seayah ataui seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah, baik dari jalur laki-laki maupun wanita. 
  7. Putri saudara laki-laki (keponakan) sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita.
    Dasar hukum (Dalil) : surat An Nisa ayat 23.
2. Mahram Karena Penyusuan
Kelompok yang kedua ada 7 golongan juga, sama persis seperti di atas, namun hubungannya karena sepersusuan (yakni satu ibu susuan, dengan minimal disusui 5x sampai kenyang) :
  1. Ibu, nenek, buyut perempuan dan seterusnya ke atas.
  2. Anak perempuan, cucu perempuan, dan seterusnya ke bawah.
  3. Saudara perempuan, baik saudari kandung, sebapak, atau seibu. 
  4. Keponakan perempuan dari saudara perempuan dan keturunannya ke bawah.
  5. Keponakan perempuan dari saudara laki-laki dan keturunannya ke bawah.
  6. Bibi dari jalur bapak (‘ammaat). 
  7. Bibi dari jalur ibu (Khalaat). 
3.Mahram Karena Pernikahan
Adapun kelompok yang ketiga, maka jumlahnya 4 golongan, sebagai berikut :
  1. Istri bapak (ibu tiri), istri kakek dan seterusnya ke atas, berdasarkan surat an nisa:22.
  2. Istri anak, istri cucu dan seterusnya ke bawah berdasarkan an nisa:23 
  3. Ibu mertua, ibunya dan seterusnya ke atas, berdasarkan an nisa:23 
  4. Anak perempuan istri dari suami lain (rabibah), cucu perempuan istri baik dari keturunan rabibah maupun dari keturunan rabib (anak lelaki istri dari suami lain).

    Dalil : Surah An-nisa ayat 23
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Muhrim/Mahram
  • Larangannya apa saja?
    Dilarang dan haram hukumnya menikah dengan mahram
  • Saudara ipar apakah mahram (muhrim)? Saudara ipar bukan termasuk mahram. bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan agar berhati-hati dalam melakukan pergaunlan bersama ipar. Dalilnya: Ada seorang sahabat yang bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana hukum kakak ipar?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saudara ipar adalah kematian.”(HR. Bukhari dan Muslim).Maksud hadis: Interaksi dengan kakak ipar bisa menjadi sebab timbulnya maksiat dan kehancuran. Karena orang bermudah-mudah untuk bebas bergaul dengan iparnya, tanpa ada pengingkaran dari orang lain. Sehingga interaksinya lebih membahayakan daripada berinteraksi dengan orang lain yang tidak memiliki hubungan keluarga. Kondisi semacam ini akan memudahkan mereka untuk terjerumus ke dalam zina.
  • Sepupu bukan mahram ? Dalam islam kita dibolehkan menikahi sepupu. 
  • Istri paman atau suami bibi, bukan mahram? Misal: Adi punya paman (Rudi), istri Rudi bukan mahram bagi Adi. Atau Wati punya bibi (Ida), suami Ida bukan mahram bagi Wati.
  • Bagaimana kalau suka gandengan tangan sama teman lawan jenis?
    Bergandengan tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram (misalnya teman) adalah perbuatan dosa/dilarang.
  • Artis yang akting pelukan n ciuman dosa ga?
    Berpelukan/berciuman dengan lawan jenis yang bukan mahram (misalnya teman) adalah perbuatan dosa/dilarang.
Menikah itu mengubah yang haram menjadi halal (misal berhubungan badan), yang maksiat menjadi ibadah (misal berciuman, bergandengan tangan), cinta dan kasih sayang menjadi tanggung jawab.

" Muhrim adalah orang yang sedarah atau diikat oleh perkawinan sah antara laki2 dan perempuan. Mereka berpegangan tangan dianggap tidak berdosa."

Jadi Kalau bukan muhrimnya, dilarang pegang2 tangan, apalagi berciuman.Demikiaanlah penjelasan mengenai bukan muhrim dalam islam, semoga bermanfaat! Wassalam Wr.Wb

Akhlaq Yang Baik

6:04 AM Add Comment
Akhlak yang baik merupakan sifat pemimpin para Rasul dan amal para Shiddiqin yang paling utama, dan berdasarkan penelitian, bahwa akhlak yang baik termasuk separuh agama, buah kesungguhan orang-orang yang bertakwa, dan tamannya para ahli ibadah. Sedangkan akhlak buruk itu racun yang mematikan, pemusnah yang sangat berbahaya, pembuka aib dan kehinaan yang nyata, serta kejelekan yang menjauhkan dari pertolongan Allah. Akhlak jelek itu membawa pemiliknya kepada prilaku setan yang merupakan pintu yang terbuka menuju api neraka yang menyala, yang membakar sampai ke hati, sedangkan akhlak baik itu bagaikan pintu-pintu yang terbuka menuju nikmatnya surga dan pertolongan Allah Yang Maha Pengasih.
Para ulama telah berbeda dalam mendefinisikan akhlak baik, Ali berkata, “Akhlak yang baik itu ada pada tiga sifat: menjauhi yang diharamkan, mencari yang halal dan berbuat baik kepada keluarga.”
Al-Hasan berkata, “Akhlak baik itu adalah dermawan, suka berkorban dan bertanggung jawab.” Dan dia berkata, “Akhlak baik adalah: wajah yang menyenangkan, mencurahkan kebaikan dan mencegah keburukan.”
Ahmad berkata, “Akhlak baik itu adalah, engkau tidak marah dan tidak dengki.”
Apabila bentuk dan sifat yang ada pada jiwa itu melahirkan pekerjaan-pekerjaan yang baik dan terpu ji secara akal dan syar’i, maka bentuk dan sifat itu disebut akhlak yang baik, akan tetapi apabila yang lahir dari bentuk dan sifat yang ada pada jiwa tersebut adalah pekerjaan-pekerjaan yang buruk, maka bentuk dan sifat itu disebut akhlak yang buruk.
Akhlak itu ada dua bagian: Jibiliyah dan Muktasabah Jibiliyah adalah apa yang Allah ciptakan pada manusia, sedangkan Muktasabah adalah apa yang dicari dan didapatkan oleh manusia itu sendiri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Sesungguhnya ilmu itu dengan belajar, dan sesungguhnya kemurahan hati itu dengan bermurah hati.
Sebenarnya pada diri orang-orang Arab dahulu sudah terdapat akhlak yang baik dan akhlak yang buruk, maka Allah Subhanahu wata’ala mengutus Rasulullah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyempurnakan akhlak yang baik dan untuk memperbaiki akhlak yang buruk, sebagaimana sabda beliau,
Sesungguhnya aku diutus, hanya untuk menyempurnakan akhlak yang baik.

Pengkaji ibadah melihat, bahwa semua ibadah membentuk sebuah lingkungan yang mewujudkan tujuan ini, Allah berfirman,
Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (per-buatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (Al-Ankabut: 45).

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah, dan apabila ia men-dapat kebaikan, ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya. Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (Al-Ma’arij: 19-25).
Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,
Puasa itu benteng, apabila datang hari puasa salah seorang dari ka-lian, maka janganlah dia berkata keji dan meneriakkan permusuhan, dan apabila seseorang mencacinya atau memusuhinya, maka hen-daklah dia berkata,Sesungguhnya aku adalah orang yang sedang berpuasa‘.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

Barangsiapa yang mengerjakan haji kemudian tidak berkata keji dan fasik, maka dia kembali (bersih dari dosa) sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.

Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa keshalihan akhlak merupakan tanda keshalihan ibadah, dan kerusakan akhlak menun-jukkan kerusakan ibadah.

Uqdatul Kubro

11:45 PM Add Comment
Assalamu'alaikum Wr.Wb
Bismillahir Rohmanir Rohiim,

Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
(QS. Al-An'am (6) : 162)


Uqdatul Kubro secara bahasa artinya adalah simpul besar. Banyak juga diartikan sebagai simpul kehidupan yang sangat besar.
Kenapa dikatakan sebagai simpul? Karena pada hakekatnya uqdatul qubro adalah 3 pertanyaan mendasar tentang kehidupan yang pasti dialami dan dijawab oleh setiap manusia, baik secara sadar maupun  tidak. Dan  munculnya filsafat juga pada hakekatnya adalah untuk mengurai simpul kehidupan ini.
Bila pertanyaan ini berhasil dijawab, maka seseorang akan memiliki landasan kehidupan sekaligus tuntutan dan tujuan hidupnya atau dengan kata lain menjadi  ideologi pribadinya.
Bagaimana bila tidak berhasil di jawab? maka orang tersebut akan terus berada dalam kebimbangan dalam hidupnya.
Jadi, apakah 3 pertanyaan itu?

1. Dari manakah manusia dan kehidupan ini?
2. Untuk apa manusia dan kehidupan ini diciptakan?
3. Akan kemanakah manusia dan kehidupan ini?

Pertanyaan-pertanyaan  ini sangat sederhana, tapi  impactnya sangat besar terhadap kehidupan kita.
Manusia dalam  usahanya  menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas telah menghasilkan berbagai  macam pemikiran yang menjadi  pegangan  hidupnya yang dalam Islam disebut sebagai Aqidah. Adapun aqidah yang nantinya di legitimate atau  disahkan  menjadi  suatu pegangan dalam  sebuah negara disebut dengan Ideologi.
Dari semua aqidah tersebut, saya menyimpulkan hanya ada 2 macam aqidah/pemikiran.

1. Materialisme
Materialisme memandang  bahwa kehidupan ini ada dengan sendirinya, makhluk hidup berasal dari tanah/materi dan akan kembali menjadi tanah/materi, oleh karenanya kita hidup untuk mencari kebahagiaan materi selama kita mampu. Materialisme tidak meyakini adanya hal gaib seperti tuhan, ruh, akhirat, pahala dan dosa, dan lainnya. Mereka percaya segalanya materi belaka. Mereka tidak mengakui eksistensi agama.
Materialisme sendiri akan melahirkan komunisme sebagai Ideologinya.

2. Agamis (Semua agama, tidak hanya Islam)
Agamis memandang bahwa dibalik kehidupan ini ada sang pencipta, yang mengadakan seluruh alam, termasuk dirinya, memberi tugas kehidupan  pada manusia, dan kelak ada  kehidupan  lain  setelah dunia ini, yang akan membalas semua kehidupan dunia ini.
Semua agama kecuali Islam akan melahirkan sistem Teokrasi sebagai Ideologinya.
Dua jawaban ini bukan berdasar pada apa yang benar dan apa yang salah, tidak juga berdasar pada filsafat mengenai suatu ajaran tertentu, tetapi kesimpulan pribadi semata melihat begitu banyak ajaran-ajaran di dunia ini yang intinya adalah menjawab 3 pertanyaan dasar  tadi.
Berdasarkan  itu  pula, maka saya berani berkata, bahwa ajaran lainnya adalah kombinasi dari 2 jawaban tersebut. Sebagai contoh :

1). Sekulerisme, yang  notabene adalah kekecewaan para politisi dan ilmuwan terhadap ajaran  sebagian  besar  agama  yang tidak  sanggup  menjawab  masalah-masalah  dalam  kehidupan  ini, sehingga mereka  memisahkan  antara urusan agama dan urusan kehidupan.
2). Liberalisme, yang merupakan bentuk lain (bentuk lebih canggih) dari Sekulerisme yang  membebaskan individu dari keterikatan  negara dalam  hal  perekonomian. Jadi  jangan  kaget  kalau  dalam  Liberalisme, semua  hal  di  privatisasi dan dilegalkan  atas  nama  kebebasan.
3).Demokrasi, yang  merupakan bentuk sekulerisme yang berasal dari agama / norma adat. Artinya, peraturan-peraturan yang dibentuk, pada dasarnya adalah hukum-hukum agama / norma adat yang kemudian terkena imbas sekulerisme dan hukum-hukum agama / norma adat tersebut bergeser menjadi norma-norma umum yang berlaku di masyarakat. Kebenaran dalam demokrasi  adalah  ketika  sebagian  besar masyarakat  menyatakan  setuju,  meskipun sudah tidak sesuai dengan hukum agama / norma adat.
Pemecahan Uqdatul  Kubro
Pemecahan yang benar tentang masalah ini tidak akan terbentuk kecuali dengan pemikiran yang jernih dan menyeluruh tentang (1) alam semesta (al kaun), (2) manusia (al insan) dan (3) kehidupan (Al hayaah) serta hubungan ketiganya dengan kehidupan sebelum dan sesudah kehidupan ini.

1. Proses Keimanan terhadap Al-Kholiq (Sang Pencipta)
Sudah menjadi fitrah manusia untuk mengakui adanya Tuhan Sang Pencipta (Al-Kholiq). Dan meskipun kaum sekuler / komunis tidak mengakui adanya tuhan, mereka begitu mengagung-agungkan tokoh-tokoh komunis sampai lebih menyerupai penyembahan terhadap tuhan.
Kita sempat terkecoh dan terjebak dengan pemikiran-pemikiran kaum komunis tentang keberadaan Tuhan, bagaimana Tuhan tidak bisa dilihat dan tidak berwujud maka Tuhan itu tidak ada?
Untuk membuktikan keberadaan Tuhan, sebetulnya cukup mudah, semudah membalikkan telapak tangan, kita hanya perlu membalik pertanyaannya, bukan buktikan bahwa Tuhan itu ada, tetapi buktikan bahwa Tuhan itu tidak ada!
Manusia, hewan dan tumbuhan berasal dari ketiadaan, kemudian ada, tumbuh dan berkembang untuk kemudian menjadi tidak ada lagi. Kita semua tahu, bahwa segalanya berasal dari ketiadaan, menjadi ada dan kembali menjadi tidak ada. Tidak hanya manusia, hewan, maupun tumbuhan, tetapi segala sesuatu yang kita jumpai dalam hidup ini mengalami proses yang sama yang pada akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa segalanya bersifat terbatas, dari 'ketiadaannya' hingga batas waktu yang tidak bisa dilampauinya lagi.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.
(QS. Ali-Imron (3) : 190)

Dan sekumpulan benda-benda yang bersifat terbatas adalah terbatas juga, termasuk alam semesta ini. Manusia bersandar pada banyak hal, termasuk udara, air, tumbuhan, dan hewan. Demikian pula Tumbuhan dan hewan selalu bersandar pada yang lain karena keterbatasannya, maka bersandar kemanakah alam semesta dan seisinya ini?
Disini jelas bahwa diperlukan 'sesuatu yang lain', yang lebih hebat, yang menjadi tempat bersandar dan tidak menyandarkan dirinya pada yang lain. Inilah yang disebut sebagai Al-Khaliq atau Sang Pencipta.
Dalam menentukan sifat Al-Khaliq ini ada tiga kemungkinan,
Pertama, Diciptakan oleh yang lain. Please deh . . . Sang Pencipta diciptakan oleh yang lain? Lalu yang menciptakan sang pencipta nya sang pencipta siapa? Dan terus pertanyaannya berlajut seperti itu. Ini balik lagi ke pembahasan awal.
Kedua, Menciptakan dirinya sendiri. Stupid statement actually. Sangat gak masuk akal atawa irrasional.
Ketiga, Ia bersifat azali, wajibul wujud dan mutlak keberadaannya, dialah Allah SWT.
Iman kepada sang Khaliq ini merupakan sesuatu hal yang fitri dalam diri setiap manusia, yang datang dari perasaan hati yang ikhlas, akan tetapi perasaan hati ini sering menambah-nambah atas apa yang diimani dengan sesuatu yang berwujud sehingga dapat menjerumuskan kearah kesesatan / kekufuran. Oleh karenanya Islam tidak membiarkan perasaan hati ini sebagai satu-satunya jalan menuju iman.
Islam mengajarkan untuk tidak mempertanyakan atau mencoba mengindera tentang dzat Allah (sifat-sifat) secara langsung, tetapi memeritahkan kita untuk memahami dzat Allah melalui keberadaan ciptaan-ciptaanNya (QS. Ali-Imron (3): 190). Ini dikarenakan keterbatasan kemampuan indera manusia yang tidak akan sanggup menginder dzat Allah kecuali melalui ciptaanNya.

2. Proses Keimanan terhadap Rasul
Setelah kita mengimani sang Khaliq, maka kita selanjutnya melakukan pen-taqdis-an (pengagungan atau pensucian) yang selanjutnya kita kenal sebagai ibadah yang merupakan tali penghubung antara manusia dan PenciptaNya.
Apabila ibadah ini dibiarkan dengan sendirinya tanpa ada aturan, maka yang ada adalah kekacauan dan penyembahan dari selain dari pencipta yang sebenarnya.
Jadi harus ada aturan tertentu yang mengatur ini dengan baik, hanya saja aturan ini harus datang dari Al-Khaliq ke tangan manusia, maka tidak-boleh tidak, harus ada para Rasul yang menyampaikan agama ini.
Kenapa Allah tidak datang atau turun langsung memberikan aturan-aturan tersebut? Karena keterbatasan indera manusia, niscaya, manusia tidak akan sanggup untuk berhadapan langsung dengan Sang Khaliq.
Oleh karenanya, dalam Islam, tidak pernah ada istilah Tuhan turun ke bumi ataupun manusia / rasul menjadi Tuhan, karena Rasul itu jelas hanya seorang manusia yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyampaikan agama Allah.

3. Proses Keimanan terhadap Al-Qur'an Kalamullah
Hal paling mudah untuk membuktikan bahwa Al-Qur'an itu datang dari Allah SWT adalah bahwa telah terbukti Allah menjaga Al-Qur'an dari ayat terakhir turun hingga detik ini, isi Al-Qur'an tidak pernah berubah, segala daya dan usaha untuk merubahnya telah gagal, karena Allah SWT sendirilah yang menjaganya.


Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.
(QS. Al-Hijr (15) : 9)

Oleh karenanya, terbukti sudah bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah yang terlindung dari campur tangan manusia.
Kita bisa lihat begitu banyak kitab-kitab suci diubah tangan manusia demi kepentingan manusia sehingga diragukan apakah ini perkataan Tuhannya ataukah hanya perkataan sang ahli kitab saja.
Konsekuensi  Iman kepada Allah, Rasulnya dan Al-Qur'an
Setelah kita beriman kepada Allah, Rasulnya, dan Al-Qur'an, maka kita telah wajib beriman terhadap apa saja yang dikabarkan oleh-Nya, baik yang dapat dicerna oleh akal maupun yang tidak.
Dari sini kita wajib beriman kepada hari kebangkitan dan pengumpulan (ba'ats), surga dan neraka, hisab dan siksa, malaikat, Jin dan Syaitan, serta apa yang diterangkan oleh Al-Qur'an dan Hadist qath'i.
Oleh karena itu kita wajib beriman kepada kehidupan sebelum dunia, yaitu adanya Allah SWT dan proses penciptaan oleh-Nya; serta beriman kepada kehidupan setelah dunia yaitu hari akhirat. Perkataan-perkataan Allah SWT merupakan tali penghubung (shilah) antara kehidupan sebelum dunia dan kehidupan dunia, yaitu hubungan penciptaan (shilatul haq); dan sekaligus menjadi penghubung antara kehidupan dunia dan kehidupan setelah dunia (shilatul muhasabah) dan pastilah manusia terikat oleh tali penghubung ini.
Oleh karenanya, manusia wajib berjalan dalam kehidupan ini sesuai dengan peraturan Allah, dan akan dihisab pada hari kiamat atas segala perbuatannya di dunia.
Disini kita telah berhasil menjawab uqdatul qubro dengan benar, bahwa sebelum adanya kehidupan ada Allah SWT; Kita berjalan diatas bumi ini karena Allah SWT dan sudah sepantasnya hanya untuk Allah SWT dan dengan peraturan Allah SWT; Untuk kemudian dihisab pada hari kiamat atas segala perbuatannya di dunia.

Selanjutnya
Setelah kita telah berhasil memecahkan uqdatul qubro, maka sudah saatnya kita beriman kepada semua yang diperintahkan Allah SWT, termasuk beriman kepada Syari'at Islam (sebagaimana terhadap aqidah Islam) sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur'an.
Seorang yang ingkar terhadap hukum-hukum syara' secara keseluruhan atau sebagian, dapat menyebabkan ia menjadi kufur, baik hukum-hukum yang berkaitan dengan ibadah, muamalah, uqubat (sanksi), ataupun math 'umat (yang berkaitan dengan makanan).
Alhamdulillahirrobil 'Allamiin.

Ceramah Singkat ( Pentingnya Menuntut Ilmu )

11:19 PM 49 Comments

Assalamualaikum. Wr. Wb

Hamdan Wa Syukran Lillah Sholatan Wa Salaman ‘ Ala Rosulilah Amma Ba’ad

Ikhwan fillah yang saya hormati. Marilah kita bersyukur kepada Allah  SWT atas rahmat dan kasih sayang-Nya yang dilimpahkan kepada kita. Salawat serta salam kita curahkan kepada baginda Rasulullah SAW yang membawa umat manusia dari kejahiliyaan menuju pengabdian kepada Allah SWT. Hadirin yang dimuliakan Allah.

Judul ceramah yang saya bawakan pada kesempatan ini adalah

“ Pentingnya Menuntut Ilmu”

Tak bisa di pungkiri kita tidak bisa hidup tanpa ilmu
Oleh sebab itu Islam memerintahkan kepada kita untuk menuntut  ilmu,baik ilmu ukhrawi maupun duniawi dan tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mencari ilmu,
sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

“ Tolabul ilma faridatur  ‘ala kulli muslimin wa muslimah”
Artinya : Mencari ilmu itu wajib bagi orang islam laki – laki dan perempuan.

Maka dengan ilmu kita bisa menundukkan seluruh makhluk Allah yang ada dimuka bumi ini. Dengan ilmu pula kita bisa memimpin dunia memimpin seluruh makhluk Allah.
Dan Kita akan menjadi makhluk terbaik diantara makhluk Allah. Namun jika tidak berilmu, kita akan menjadi bodoh tidak tahu apa-apa didunia ini dan pada akhirnya kita menjadi makhluk yang paling rendah, kata Allah  Qs : at-tin : ayat 5  “Asfala Safilin ”
dan tentunya kita tidak mau menjadi makhluk yang paling rendah.

Namun Allah SWT juga mengabarkan kabar gembira bagi orang2 yang beriman dalam surah AL-Mujadalah ayat 11

...يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰت
Artinya : "Allah akan mengangkat derajat orang beriman dan yang berilmu dengan beberapa derajat."

Oleh karena itu marilah kita tetap menuntut ilmu, karena dengan ilmu kita akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sebagai kesimpulan. Selama hayat masih dikandung badan mari kita selalu menuntut ilmu tanpa mengenal lelah karena ilmu sangat penting dalam kehidupan. Kita tidak bisa menjadi insan kamil tanpa ilmu pengetahuan.

“ Unzur ma qila wala tanzur man Qola “
Pandanglah pembicaraan jangan pandang siapa pembicaranya.


Wabillahi taufik wal hidaya Assalamu’Alaikum. Wr. Wb

Semoga Bermanfaat...